MEMBUKA LEMBARAN PUTIH: SEBUAH CATATAN JIWA DI AMBANG 1 MUHARRAM 1448 H

Senja di ufuk barat perlahan luruh, membawa pergi sisa-sisa hari terakhir di bulan Dzulhijjah. 

Bersamaan dengan tenggelamnya matahari hari ini, 16 Juni 2026, sebuah gerbang waktu yang suci kembali terbuka. Di atas hamparan sajadah semesta, kita bersimpuh menyambut ketukan lembut bulan Muharram.

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Selasa, 16 Juni 2026

MENGALIR DARI RAHIM SEMESTA : POTRET KASIH IBU TANPA BATAS RUANG

Ada satu bahasa yang tidak membutuhkan kamus untuk dimengerti. Ia tidak mengenal sekat peradaban manusia, bahkan tidak berbatas pada perbedaan jenis ciptaan. 

Jika kita melayangkan pandangan ke seluruh penjuru bumi—mulai dari hiruk-pikuk kota manusia hingga ke sudut-sudut paling sunyi di hutan belantara dan kedalaman samudra—kita akan menemukan sebuah hakikat yang sama: Ibu adalah altar pengorbanan tertinggi demi sebuah kehidupan baru.

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Senin, 08 Juni 2026

MEMELUK KEMBALI IBU BUMI: REFLEKSI SUNYI DI HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA

Sahabat Pembaca yang Budiman,
Pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak, melepas alas kaki, dan membiarkan telapak kaki kita menyentuh dinginnya tanah di pagi hari? 

Atau kapan terakhir kali kita menengadah, membiarkan dedaunan hijau menyaring sinar matahari yang jatuh tepat di wajah kita, lalu menghirup napas dalam-dalam?

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Jumat, 05 Juni 2026

MERAWAT PONDASI BANGSA: SEBUAH RENUNGAN DI HARI LAHIR PANCASILA

"Pancasila bukan hanya dasar negara. Ia adalah denyut nadi yang menyatukan jutaan hati dalam satu nama: Indonesia."
 

Di balik setiap helai kain yang berkibar itu, ada napas, keringat, air mata, dan doa dari para pendahulu kita.
 
Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Senin, 01 Juni 2026

MENGETUK PINTU LANGIT, MENYEMBELIH EGO: RENUNGAN SUNYI DI HARI RAYA KURBAN

Gema takbir sejak semalam tidak hanya memenuhi udara, tetapi seperti sedang mengetuk dinding-dinding dada kita yang mulai mengeras oleh kesibukan duniawi.

Setiap kali Hari Raya Idul Adha tiba, ingatan kita secara otomatis akan melayang pada kisah klasik yang abadi: tentang Nabi Ibrahim AS, Ismail AS, dan sebuah ujian cinta yang berada di luar batas nalar kemanusiaan. 

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Rabu, 27 Mei 2026